ASQI NEWS

Header
collapse
...
Trang chủ / Kinh doanh / Perluas Pelayanan Publik Kesehatan, Kemenkes Percepat Pemerataan 55 Ribu Dokter Spesialis

Perluas Pelayanan Publik Kesehatan, Kemenkes Percepat Pemerataan 55 Ribu Dokter Spesialis

Th10 23, 2026  ASQINEWS  3 lượt xem
Perluas Pelayanan Publik Kesehatan, Kemenkes Percepat Pemerataan 55 Ribu Dokter Spesialis

ASQINEWS.com, JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempercepat pemenuhan dan pemerataan sumber daya manusia (SDM) kesehatan melalui pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit, penugasan tenaga medis dan tenaga kesehatan, pemberian beasiswa, serta pelatihan lanjutan di dalam dan luar negeri. Langkah ini dilakukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan berkualitas, terutama di daerah yang masih kekurangan dokter.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan pemenuhan SDM kesehatan masih menjadi tantangan dalam memperkuat sistem kesehatan nasional. Berdasarkan data SISDMK per 21 Oktober 2026, sebanyak 93 persen wilayah masih membutuhkan dokter spesialis, dengan total kekurangan mencapai 55.192 dokter.

"Masalah kita ada pada jumlah dokter spesialis. Dari 66 RSUD PHTC yang sedang dibangun, yang memiliki kelengkapan dokter spesialis baru mencapai 51 persen. Karena itu, Kemenkes berupaya mengisi kekurangan tersebut," pungkas Menkes Budi di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Salah satu upaya adalah mengembangkan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit melalui program Hospital-Based atau Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU). Program ini dirancang untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis sekaligus mendekatkan pendidikan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan di daerah.

Sejak 2024, program RSPPU telah memiliki 221 peserta didik yang terbagi dalam empat angkatan. Pada 2026, Kemenkes juga mengembangkan 55 program studi pendidikan dokter spesialis di 52 rumah sakit untuk mendukung pemenuhan tujuh spesialis dasar serta kebutuhan layanan kanker, jantung, stroke, uronefrologi, dan kesehatan ibu dan anak (KJSU-KIA).

Menurut Menkes, perekrutan peserta didik dengan mempertimbangkan asal daerah menjadi bagian penting untuk mengatasi ketimpangan distribusi dokter. Melalui pendekatan ini, dokter yang telah bekerja di daerah dapat menempuh pendidikan spesialis dan kembali memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah asalnya.

"Kita merekrut putra-putri asli daerah, bukan orang Jakarta. Itu sebabnya, begitu selesai pendidikan, mereka pasti akan kembali ke daerah," tandas Menkes Budi.

Untuk menjaga mutu pendidikan, enam RSPPU telah memperoleh akreditasi sebagai institusi penyelenggara pendidikan dari ACGME International dan LAM-PTKes.

Selain memperluas pendidikan dokter spesialis, Kemenkes menugaskan dokter spesialis ke rumah sakit prioritas untuk mengisi kekosongan layanan. Penugasan ini mencakup rumah sakit dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), layanan KJSU-KIA, serta wilayah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK). Hingga Juli 2026, sebanyak 371 dokter spesialis telah ditugaskan untuk memperkuat pelayanan di rumah sakit prioritas.

"Pendidikan dokter spesialis membutuhkan waktu sekitar empat tahun. Karena itu, untuk mengisi kekosongan pendidikan, kita juga mengirim dokter spesialis ke daerah yang membutuhkan. Penugasan ini memang sementara, tetapi masyarakat tidak bisa menunggu," terangnya.

Selain dokter spesialis, Kemenkes juga menempatkan tenaga medis dan tenaga kesehatan melalui program penugasan khusus di puskesmas yang berada di daerah dengan keterbatasan tenaga kesehatan. Hingga Juli 2026, sebanyak 3.648 tenaga medis dan tenaga kesehatan telah ditugaskan.

Kemenkes turut memberikan dukungan pendidikan melalui beasiswa bagi dokter spesialis, dokter, dokter gigi, dan tenaga kesehatan lainnya. Pada periode 2024–2026, sebanyak 4.592 beasiswa telah diberikan, terdiri atas 2.696 beasiswa dokter spesialis, 1.081 beasiswa dokter dan dokter gigi, serta 815 beasiswa tenaga kesehatan.

"Sejak kabinet ini dibentuk, sudah ada 4.592 beasiswa yang diberikan Kementerian Kesehatan. Ke depan, kita ingin memastikan beasiswa ini semakin tepat sasaran, terutama bagi putra-putri daerah yang membutuhkan," kata Menkes Budi.

Peningkatan kompetensi juga dilakukan melalui program fellowship di luar negeri, khususnya untuk layanan jantung dan stroke serta kemampuan menggunakan teknologi medis modern. Sebanyak 136 dokter spesialis telah mengikuti pelatihan di Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia. Dari jumlah tersebut, 65 dokter telah lulus dan kembali ke daerah asalnya.

 

Sumber berita: Kementerian Kesehatan RI / Biro Komunikasi dan Informasi Publik

Penulis : Redaksi ASQINEWS

ASQINEWS.com | Indonesia Lebih Melayani | Mengawal Kualitas Pelayanan Unggul Indonesia


Chia sẻ:

Để lại bình luận

Địa chỉ email của bạn sẽ không được công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Trải nghiệm của bạn trên trang web này sẽ được cải thiện bằng cách cho phép cookie.