ASQINEWS.COM, JAKARTA – Durian identik dengan risiko. Buah terlalu cepat matang, kualitas turun. Terlambat terjual, buah bisa busuk dan modal ikut terbuang.
Bagi Agung Eko Putra, persoalan itu justru menjadi pintu masuk untuk mengubah cara berjualan durian.
Bagi pelaku usaha durian, waktu bisa menjadi penentu antara keuntungan dan kerugian. Buah yang terlambat terjual beberapa hari saja dapat kehilangan kualitas, bahkan berakhir menjadi produk yang terbuang.
Persoalan itu pernah dihadapi Agung Eko Putra dalam bisnis buah yang digelutinya. Namun, alih-alih membiarkan durian berhenti sebagai komoditas yang harus segera habis terjual, ia mencari cara agar buah tetap memiliki nilai ketika masa segarnya mulai terbatas.
Dari situlah Agung mengembangkan Durian Tun Te Jang. Durian tidak hanya dijual dalam bentuk buah utuh, tetapi juga diolah menjadi durian kupas, daging beku, hingga pancake durian. Cara tersebut menjadi bagian dari upayanya memotong rantai distribusi sekaligus mengurangi produk yang terbuang.
Melalui Durian Tun Te Jang, Agung tidak lagi sepenuhnya mengandalkan penjualan buah dalam kondisi utuh dan segar. Durian yang sudah melewati tingkat kematangan tertentu diolah menjadi durian kupas, daging durian beku, hingga pancake durian. Dengan sistem pembekuan, umur simpan yang sebelumnya hanya beberapa hari dapat diperpanjang hingga sekitar satu bulan.
Strategi tersebut menjadi salah satu fondasi bisnis Durian Tun Te Jang yang berdiri sejak 2022. Dalam waktu sekitar empat tahun, usaha itu berkembang menjadi tujuh outlet di kawasan Jabodetabek.
Kini, Agung bersiap menambah dua outlet baru di kawasan yang memiliki karakter pasar berbeda, tetapi sama-sama dikenal sebagai kawasan premium, yakni Pantai Indah Kapuk (PIK) dan Antasari, Jakarta.
Perjalanan Agung membangun bisnis durian sebenarnya tidak dimulai dari toko atau outlet. Pengalamannya justru berasal dari rantai pasok buah, khususnya jeruk.
Pria kelahiran Curup, Bengkulu, itu sejak 2014 menjadi pemasok Jeruk Gerga untuk pasar induk hingga jaringan ritel modern seperti Lotte Mart dan Ranch Market. Dalam satu pekan, volume pasokan yang ditangani mencapai sekitar 7.000 hingga 14.000 kilogram.
Pengalaman tersebut membuat Agung memahami bahwa persoalan bisnis buah bukan hanya soal mendapatkan produk, tetapi juga bagaimana produk sampai ke konsumen dalam kondisi terbaik tanpa menimbulkan terlalu banyak risiko di sepanjang rantai distribusi.
Namun, pengalaman pertama tidak langsung berjalan mulus. Sistem konsinyasi yang selama ini menjadi salah satu jalur distribusi ke jaringan supermarket justru membuat risiko lebih besar berada di pihak pemasok.
"Satu tahun kami coba sistem konsinyasi. Tidak menguntungkan. Risiko di kami semua. Akhirnya kami putuskan buka outlet sendiri. Potong rantai distribusi. Jual langsung ke pelanggan," kata Agung dalam keterangannya, Jakarta, Selasa, 06-10-2026.
Keputusan tersebut mengubah cara Agung melihat bisnis buah. Dari sinilah Durian Tun Te Jang kemudian dibangun dengan pola kemitraan langsung bersama petani dan pemasok di sejumlah wilayah. Pasokan durian berasal dari Sulawesi, Bali, Jawa, hingga Sumatera. Pola tersebut sekaligus menjadi cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu daerah dan satu periode panen.
Di sisi lain, Agung juga mulai mengubah cara produk tersebut dijual. Jika pada awalnya penjualan lebih banyak mengandalkan kunjungan pelanggan ke outlet, kini kanal digital menjadi bagian penting dari distribusi. GoFood, GrabFood, ShopeeFood, hingga TikTok @duriantuntejang digunakan sebagai etalase untuk menjangkau konsumen.
Perubahan itu sekaligus menjawab persoalan klasik dalam perdagangan buah segar: bagaimana mengurangi produk yang terbuang ketika penjualan tidak sesuai dengan kecepatan kematangan buah.
"Dulu kalau tidak laku dalam 3 sampai 5 hari, ya busuk. Sekarang durian yang kematangannya sudah lewat kami jadikan durian kupas, daging beku, dan pancake durian. Masuk freezer minus 18 derajat, tahan satu bulan. Zero waste," ujarnya.
Saat ini, Durian Tun Te Jang memiliki lima varietas yang menjadi andalan, yakni Musang King, Black Thorn, Bawor, Montong, dan durian lokal premium. Produk tersebut ditawarkan dalam empat bentuk, yaitu durian utuh, kupas segar, durian beku, dan produk olahan.
Menurut Agung, memperbanyak pilihan produk saja belum cukup untuk memenangkan persaingan. Karena itu, Durian Tun Te Jang menerapkan garansi rasa. Konsumen dapat menukar produk apabila durian yang dibeli tidak sesuai standar rasa, misalnya tidak manis atau masih mengkal.
"Pembeli di PIK dan Antasari tidak cari yang paling murah. Mereka cari Musang King yang legit, ada pahitnya, dan garansi. Mereka butuh kepastian," kata Agung.
Namun, bagi Agung, ekspansi outlet bukan tujuan akhir. Ia melihat bisnis durian sebagai bagian dari rantai agribisnis yang jauh lebih panjang.
"Agrobisnis itu pilihan jangka panjang. Ke depan, kami ingin punya kebun durian premium sendiri, mengelolanya, dan mendistribusikannya. Berkolaborasi dengan banyak pihak," kata dia.
Di balik nama Durian Tun Te Jang, terdapat identitas yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Agung sebagai putra Curup, Bengkulu. Tun Te Jang berasal dari bahasa Rejang dan memiliki makna yang merujuk pada orang Rejang atau identitas masyarakat Rejang.
Nama tersebut sengaja dipilih bukan sekadar sebagai merek dagang, tetapi sebagai cara Agung membawa identitas daerah asalnya ke dalam usaha yang kini berkembang di luar Bengkulu.
Bagi Agung, identitas tersebut menjadi bagian dari filosofi membangun usaha. Nama Tun Te Jang mengingatkan bahwa pertumbuhan bisnis tidak harus membuat seseorang kehilangan akar dari mana ia berasal.
Pada titik itu, nama Tun Te Jang bukan hanya menjadi label pada kemasan durian. Ia menjadi simbol bagaimana identitas lokal dari Bengkulu dibawa ke tengah persaingan pasar yang lebih luas.
Dari Curup, Bengkulu, Agung mencoba membangun jalan yang lebih panjang: membawa rasa durian ke Jakarta, mempertemukan petani dengan konsumen, mengurangi buah yang terbuang, dan pada saat yang sama tetap membawa nama serta identitas tanah kelahirannya.
Dok. Durian Tun Te Jang
Penulis: Redaksi ASQINEWS
ASQINEWS.com | Indonesia Lebih Melayani | Mengawal Kualitas Layanan Publik Indonesia
Tinggalkan komentar
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *