ASQI NEWS Menyuarakan Pelayanan Terbaik

Header
collapse
Home / Berita Terbaru / BMKG, Pemerintah Pusat dan Daerah Kolaborasi Percepat Pemulihan Gempa Flores M7,7

BMKG, Pemerintah Pusat dan Daerah Kolaborasi Percepat Pemulihan Gempa Flores M7,7

Aug 16, 2026  ASQINEWS  76 views
BMKG, Pemerintah Pusat dan Daerah Kolaborasi Percepat Pemulihan Gempa Flores M7,7

ASQINEWS.com, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 235 kali aktivitas gempa bumi susulan atau aftershocks hingga pukul 14.00 WIB pasca gempa tektonik utama di utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, 15 Agustus 2026.

Aktivitas gempa susulan tersebut terdistribusi di sebelah utara Pulau Flores dengan kisaran magnitudo M2,5 hingga M6,2. Grafik pemantauan mengindikasikan tren rekaman gempa susulan saat ini belum mengalami peluruhan yang signifikan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengonfirmasi BMKG terus memantau pergerakan sesar secara real-time. Berdasarkan histori dan karakteristik wilayah tersebut, proses stabilisasi sesar membutuhkan interval waktu tertentu sebelum aktivitas seismik benar-benar kembali normal.

"BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya," ujar Faisal dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu 15/8.

Sebelumnya, BMKG memutakhirkan data gempa bumi tektonik dangkal tersebut menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 km. Sistem pemantauan gempa BMKG merespons kejadian secara cepat dengan mengeluarkan peringatan dini tsunami dalam waktu 2 menit 16 detik pasca gempa utama. Peringatan kemudian dimutakhirkan setelah parameter gempa stabil dan presisi 10 menit setelahnya.

Guncangan gempa sempat memicu gelombang tsunami yang menerjang beberapa kawasan pesisir. BMKG menggunakan sistem running model multi-skenario dan membagi status ancaman ke dalam kategori Siaga dengan potensi tinggi 0,5 meter hingga 3 meter, serta Waspada dengan ketinggian di bawah 0,5 meter.

Jaringan observasi muka air laut mencatat gelombang tsunami tiba di Reo Manggarai dan Manggarai Timur dengan ketinggian puncak mencapai 1,61 meter, Maurole Ende setinggi 0,94 meter, serta Bulukumba dan Sape Bima melampaui 0,5 meter. BMKG resmi mengakhiri seluruh Peringatan Dini Tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan muka laut mengonfirmasi kondisi air laut telah aman.

Faisal menjelaskan gempa bumi ini tergolong gempa dangkal akibat aktivitas sesar naik busur belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust. Secara historis, struktur tersebut memiliki rekam jejak gempa merusak, termasuk gempa M7,8 pada kedalaman 28 km di tahun 1992. Gempa kali ini berpusat lebih dangkal di 15 km, sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat pada bangunan infrastruktur serta memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan peta intensitas guncangan, BMKG mencatat guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di daerah Aesesa Kabupaten Nagekeo, Riung Kabupaten Ngada, Kota Ambai, serta hasil observasi langsung mikro di kawasan Manggarai dan Ruteng. Skala VI MMI terukur di Wolowae Nagekeo dan Kota Bajawa, sementara skala V MMI dirasakan di sejumlah kawasan sekitarnya.

Untuk mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, BMKG menerjunkan tim ahli untuk mengelola survei pemetaan mikrozonasi dan makroanalisis. Tim BMKG Pusat bersama 14 Unit Pelaksana Teknis BMKG se-NTT menyisir wilayah Ngada, Nagekeo, dan titik-titik rawan lainnya di Pulau Flores. 

Survei mikro-analisis ini bertujuan mengukur jenis tanah dan respons terhadap gempa bumi. Hasil analisis lapangan akan diserahkan langsung kepada pemangku kepentingan sebagai rujukan teknis utama dalam meletakkan dasar rekonstruksi maupun retrofitting atau penguatan struktur bangunan tahan gempa.

BMKG mengimbau masyarakat untuk mempercayai data rujukan resmi yang bersumber dari jaringan nasional yang ditopang lebih dari 2.000 sensor kegempaan, termasuk 553 sensor seismograf di seluruh Indonesia.

BMKG juga terus memperkuat koordinasi di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Basarnas, TNI, Polri, serta Pemerintah Daerah. Masyarakat diminta tidak terpancing isu hoaks, menjauhi bangunan yang retak atau rusak akibat guncangan, serta memantau informasi resmi melalui aplikasi infoBMKG, media sosial @infoBMKG, dan situs bmkg.go.id.

(Redaksi ASQINEWS)

Sumber: Siaran Pers Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama BMKG


Share:

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy