ASQI NEWS

Header
collapse
Home / Berita Terbaru / Yassierli: Hilirisasi dan Kemandirian Ekonomi Butuh Tenaga Kerja Kompeten

Yassierli: Hilirisasi dan Kemandirian Ekonomi Butuh Tenaga Kerja Kompeten

Agt 18, 2026  ASQINEWS  54 views
Yassierli: Hilirisasi dan Kemandirian Ekonomi Butuh Tenaga Kerja Kompeten

ASQINEWS.com Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan bahwa kompetensi pekerja menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan Indonesia memperkuat industrialisasi dan membangun kemandirian ekonomi. Ia menyebut agenda hilirisasi, penguatan industri nasional, serta ketahanan pangan dan energi memerlukan tenaga kerja yang mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Pernyataan tersebut disampaikan Yassierli saat memimpin upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Plaza Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Senin (17/8/2026). Dalam sambutannya, ia mengatakan kemerdekaan memberi Indonesia keleluasaan menentukan arah kemajuannya sendiri, sehingga pembangunan ekonomi perlu diarahkan untuk memperkuat kemampuan bangsa mengelola potensi dan sumber daya yang dimiliki sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Tidak ada hilirisasi tanpa manusia yang mampu mengerjakannya, tidak ada industrialisasi tanpa pekerja yang kompeten, dan tidak ada kemandirian ekonomi tanpa kekuatan tenaga kerja Indonesia," kata Yassierli.

Untuk mewujudkan agenda tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menetapkan empat fokus utama: membangun pekerja kompeten yang siap menghadapi perubahan, membangun pasar kerja yang adaptif, menciptakan dunia kerja yang inklusif, serta memperkuat hubungan industrial yang harmonis dan adaptif.

Pada fokus pertama, Kemnaker memperkuat pembangunan kompetensi pekerja melalui pelatihan vokasi, pemagangan, sertifikasi kompetensi, serta sinergi dengan dunia usaha dan industri. Yassierli menekankan kompetensi yang dibangun harus selaras dengan kebutuhan industri sekaligus mempersiapkan pekerja menghadapi digitalisasi, kecerdasan artifisial, otomasi, transisi energi, dan perkembangan industri baru.

"Kita harus semakin mampu membaca perubahan kebutuhan industri agar sistem pelatihan kita tidak selalu datang terlambat. Sebab pada akhirnya, kedaulatan industri membutuhkan kedaulatan kompetensi," ujarnya.

Pada fokus kedua, Kemnaker memperkuat pasar kerja adaptif melalui layanan informasi pasar kerja, pencocokan kerja, pemagangan, serta penguatan reskilling dan upskilling. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026, sekitar 148 juta penduduk Indonesia telah bekerja, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 4,65 persen.

"Pasar kerja harus mampu mempertemukan orang yang membutuhkan pekerjaan dengan pekerjaan yang membutuhkan kompetensi mereka, secara lebih cepat dan tepat," kata Yassierli.

Pada fokus ketiga, Kemnaker membangun dunia kerja inklusif dengan memperluas kesempatan bagi seluruh masyarakat memperoleh kompetensi dan pekerjaan yang layak. Adapun fokus keempat, Kemnaker memperkuat regulasi dan hubungan industrial agar kemajuan industri berjalan seiring peningkatan produktivitas dan kesejahteraan pekerja.

Yassierli menuturkan, kekuatan industri pada akhirnya harus tercermin dalam meningkatnya produktivitas, daya saing, dan kesejahteraan pekerja, sehingga setiap program ketenagakerjaan perlu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Tugas kita adalah membuat perjalanan mereka menjadi lebih baik: dari belajar menjadi kompeten, dari kompeten memperoleh pekerjaan, dari bekerja menjadi semakin produktif, dan dari produktivitas memperoleh kehidupan yang semakin sejahtera," ujarnya.

(Redaksi ASQINEWS)

Dok. Humas Kemenaker 

 


Share:

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Pengalaman Anda di situs ini akan ditingkatkan dengan mengizinkan cookie.