ASQINEWS.com, JAKARTA - Di tengah upaya pemerintah mengejar target pengelolaan sampah nasional sebesar 53 persen pada 2026, sebuah gerakan berbasis masyakarat di Jakarta Timur menunjukkan daya tahan yang konsisten.
Bank Sampah Gunung Emas di Cipinang Muara, Jatinegara, mencatat total nasabah mencapai 2.058 orang hingga Oktober 2026, yang tersebar di 38 unit Rumah Pilah.
Laporan Pertumbuhan Nasabah bulan Oktober 2026 yang dihimpun manajemen mencatat penambahan 87 nasabah baru. Rumah Pilah Cahaya yang berstatus baru menjadi penyumbang terbesar dengan 11 nasabah, disusul Rumah Pilah Melati Ceria dan Mawar Merah masing-masing 8 nasabah. Sebanyak 28 Rumah Pilah aktif mengalami penambahan, sementara 10 Rumah Pilah lainnya tercatat stabil.
Capaian tersebut bukan sekadar angka administratif. Bank Sampah Gunung Emas telah berjalan lebih dari satu dekade dengan model ekosistem terintegrasi, perubahan dimulai dari warga, dijaga melalui sistem Rumah Pilah dan Bank Sampah, lalu tumbuh menjadi dampak lingkungan. Pada Tahun 2026, fokus diarahkan pada tiga pilar: Optimalisasi Rumah Pilah, Bina Bank Sampah, dan Akademi Bank Sampah.
Dampak yang tercatat meliputi 38 Rumah Pilah aktif, dengan kapasitas kelola lebih dari 18 ton - 20 ton sampah per bulan dan tambahan penghasilan warga lebih dari Rp200.000 per bulan. Model ini tumbuh dengan prinsip integritas, konsistensi, dan keberpihakan pada proses, bukan sensasi.

CEO Bank Sampah Gunung Emas, Vera Nofita, menegaskan filosofi tersebut.
"Gunung Emas tumbuh bukan karena proyek, tapi karena komitmen. Kami percaya perubahan hanya bisa bertahan jika manusia di dalam sistemnya dikuatkan. Ketika sampah mulai dipilah dari dapur, kepercayaan diri warga tumbuh," ujar Vera kepada Asqinews.com, Jakarta, Rabu, 04-11-2026.
Menurut Vera, capaian ribuan nasabah harus dibaca sebagai investasi sosial.
"Bagi kami, 2.058 nasabah bukan sekadar angka penambahan. Di baliknya ada kepercayaan warga yang melihat sampah bukan lagi sebagai beban, melainkan sebagai aset yang memberi nilai bagi keluarga. Tugas kami adalah menjaga konsistensi itu agar tidak padam," katanya.
Konteks Kebijakan Selaras dengan Agenda Pusat dan Daerah
Apa yang dijaga Gunung Emas di tingkat komunitas menemukan relevansinya dengan agenda besar pemerintah.
Di tingkat nasional, Kementerian Lingkungan Hidup / Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mencatat tantangan serius. Berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang diperbarui 2026, timbulan sampah nasional mencapai 144.349 ton per hari, dengan baru 24,73 persen atau sekitar 35.697 ton per hari yang terkelola, sementara 75,27 persen belum terkelola. SIPSN juga mencatat terdapat 22.544 Bank Sampah Unit (BSU) dan 411 Bank Sampah Induk (BSI) aktif secara nasional.
Menteri LH Hanif Faisol dalam Rakornas Pengelolaan Sampah 2026 pada 25 Februari 2026 menegaskan target ambisius jika akhir 2025 baru sekitar 24-25 persen sampah terkelola, pada 2026 ditargetkan melonjak minimal 53 persen sesuai RPJMN 2024-2029, dengan target akhir 100 persen sampah terkelola pada 2029 dan penghentian praktik open dumping di 472 TPA mulai Agustus 2026. Untuk mendukung itu, pemerintah menerbitkan Permen LHK No. 12 Tahun 2025 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga yang mewajibkan pemilahan menjadi tiga kategori utama dan Kepmen LH No. 2648 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Sampah di Kawasan Pemukiman, Industri, Komersial dan Khusus.
Di tingkat DKI Jakarta, gerakan memilah dari sumber diperkuat melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber, yang diterbitkan 30 April 2026 dan berlaku sejak 10 Mei 2026. KLH/BPLH bersama Pemprov DKI mendeklarasikan gerakan "Jaga Jakarta Bersih, Pilah Sampah" pada 10 Mei 2026 di Jl. Rasuna Said sebagai langkah awal perubahan sistemik.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mencatat, dari 2.748 RW yang ada di Jakarta, per Desember 2024 jumlah bank sampah warga sebanyak 1.878 RW dengan total 2.287 bank sampah. Dari total itu, 1.435 bank sampah (63 persen) berstatus aktif dan 852 (37 persen) tidak aktif. Sampai awal Agustus 2026, tingkat pilah sampah di Jakarta baru mencapai 23,1 persen dengan 2.247 unit bank sampah di berbagai wilayah.
Untuk mengejar target Satu RW Satu Bank Sampah Aktif, DLH DKI melatih pendamping bank sampah di seluruh kelurahan, menyasar 840 RW yang belum memiliki bank sampah untuk dibentuk dalam 100 hari. DLH juga meluncurkan platform e-Bank Sampah Jakarta melalui banksampah.jakarta.go.id pada 12 Desember untuk mempermudah pengelolaan dan pendaftaran nasabah.
Konteks kewilayahan memperkuat urgensi. Data SIPSN yang dianalisis NEXT Indonesia Center menunjukkan Jakarta Timur menjadi penyumbang volume sampah terbesar di Indonesia pada 2025. Sementara itu, rekap Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur Tahun 2026 menunjukkan dinamika serupa dari ratusan bank sampah terdata, baru 90 yang aktif, sementara 115 tidak aktif, mencerminkan tantangan reaktivasi yang juga dihadapi kota.
Dengan demikian, capaian 2.058 nasabah dan 38 Rumah Pilah yang dijaga Gunung Emas bukan hanya prestasi komunitas Jakarta, tetapi menjadi simpul kecil yang menjawab pekerjaan besar mengubah perilaku dari hulu, menjaga manusia di dalam sistem, dan memastikan sampah terpilah tidak kembali tercampur di hilir.
Bank Sampah Gunung Emas adalah ekosistem pengelolaan sampah berbasis warga yang telah konsisten selama lebih dari 10 tahun di Jl. I Gusti Ngurah Rai No.25, Kel. Cipinang Muara, Kec. Jarinegara
Berangkat dari kegelisahan bahwa sampah rumah tangga belum terpilah dan bank sampah banyak berhenti di aktivitas sosial, Gunung Emas membangun model yang teruji dan siap direplikasi, bukan sekadar event, melainkan sistem nabung sampah terpilah, pendampingan berkelanjutan, edukasi dari rumah dan sekolah, serta orientasi keberlanjutan ekonomi. Pengetahuan lapangan dirangkum menjadi modul pendampingan praktis dengan fokus pada penguatan SDM dan mindset pengelola.
Di balik gerakan ini adalah Vera Nofita, praktisi bank sampah dan edukator lingkungan yang lebih dari satu dekade membangun pengelolaan sampah dari level rumah hingga dialog kebijakan.
Dengan nilai kepemimpinan integritas — konsisten antara nilai dan tindakan, konsistensi — bertahan bukan musiman, dan keberpihakan pada warga, lingkungan, serta sistem jangka panjang, Vera menjaga Gunung Emas tetap berpihak pada proses.
Kolaborasi yang telah terbangun meliputi pemerintah, CSR seperti Paragon dan Ajinomoto, serta lembaga pendidikan, dengan arah langkah 2026 memperluas Rumah Pilah sebagai basis perubahan perilaku dan mengintegrasikan program edukasi, ekonomi, dan kemitraan berdampak.
Penulis: Redaksi ASQINEWS
ASQINEWS.com | Indonesia Lebih Melayani | Mengawal Kualitas Pelayanan Unggul Indonesia
Bir yorum bırakın
E-posta adresiniz yayınlanmayacaktır. Gerekli alanlar * ile işaretlenmiştir